Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon menerima keluhan kurang ramahnya pegawai puskesmas saat menerima pasien berobat. Padahal Keramahan pegawai merupakan indikator pelayanan baik.
“Kami di Komisi IV sering menerima keluhan warga kalau banyak pegawai puskesmas yang judes dan kurang senyum kepada pengunjung, bahkan ada yang suka marah-marah,” ungkap Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon Aan Setiawan, saat mengunjungi Puskesmas Babakan.
Aan mengatakan, sebagai pelayan publik, puskesmas diharuskan ramah terhadap pengunjung tanpa membedakan status sosial dan jabatan. Kalau perlu, dibuat pelatihan senyum agar pegawai puskesmas murah senyum. Sehingga tidak ada lagi warga yang canggung saat berkunjung ke puskesmas.
“Intinya ini untuk pelayanan puskesmas itu sendiri. Soal bagaimana pelatihannya kita serahkan. Yang penting ada pelatihan senyum. Dan itu harus dianggarkan,” ujar Aan.
Aan menerangkan, sistem rujukan di Puskesmas Babakan mendapat predikat baik. Sehingga harus terus ditingkatkan. “Jangan sampai sistemnya bagus tapi pegawainya pelit senyum itu juga penting bagi kami,” terangnya.
Meski sistem rujukan di puskesmas telah baik, hal yang disayangkan justru terjadi di Rumah Sakit (RS) Waled. Pelayanan RS Waled mendapat penilaian kurang baik dari masyarakat.
“Kalau sistem rujukan di Puskesmas Babakan ini sudah sangat baik. Cuma yang masih kurang justru di RS Waled,” jelasnya.
Salah satunya mengenai oknum dokter di RS Waled kurang disiplin. Padahal dokter tersebut, merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN), namun justru memilih praktik di tempat lain dibanding datang tepat waktu di rumah sakit. Akibatnya, banyak pasien yang harus menunggu hingga berjam-jam. “Itu yang sering dikeluhkan pasien nunggu lama, dokter siang baru datang,” ungkap Aan.
Komisi IV pun telah mengingatkan, bagi dokter yang tak taat aturan sebaiknya dibebas tugaskan dari ASN.
“Kalau tidak mau disiplin dan tidak mau nurut aturan ya mending cabut saja SK nya,” tegas Aan.
Penyebab ketidaksiplinan, oknum dokter tersebut mengeluhkan bayaran yang diterima. Aan menegaskan, saat dokter sudah menjadi ASN seharusnya tak mempersoalkan gaji dengan mengabaikan pelayanan.
“Karena mereka itu kan sudah disumpah untuk melayani. Dokter sudah dibayar juga? Kenapa masih ada yang mengeluh bayaran,” jelasnya.
Di RS Waled terdapat 4 spesialis dokter kandungan, namun hanya 1 sampai 2 orang yang datang tepat waktu. “Kami tak bisa menyebutkan namanya, tapi intinya ada. Ini juga dikeluhkan temen-temen perawatnya,” kata Aan.
Selain dokter, Aan juga menyoroti belum tersedianya hydrant di rumah sakit. “Hydrant itu sangat penting, barangkali ada kejadian yang tidak di inginkan, kebakaran misalnya. Kalau tidak ada hydrant mau nyemprot pake apa? Di RS Waled dan Arjawinangun itu ternyata belum ada. Ini tidak boleh terjadi di puskesmas,” terang Aan.
Kepala Puskesmas Babakan Endang Sugiati mengapresiasi atas kehadiran jajaran Komisi IV. Ia pun mengucapkan terima kasih atas kinerja anggota Komisi IV yang juga turut membantu menaikkan status pegawai honorer Puskesmas Babakan menjadi P3K.
“Untuk puskesmas saat ini pelayanannya sudah menyeluruh. Dan soal saran untuk memperbanyak senyum, mudah-mudahan di Puskesmas Babakan akan kita realisasikan. Namun kita juga minta agar tenaga honorer yang belum diangkat bisa dibantu segera menjadi P3K,” ujar Endang.
Endang berharap, Komisi IV terus membantu dan mengevaluasi Puskesmas Babakan agar pelayanan semakin baik.
Menanggapi itu, Aan menjelaskan, pegawai puskesmas yang belum P3K akan didorong untuk bisa didaftarkan di tahun 2024.
“Kami komitmen untuk mendorong pegawai puskesmas untuk bisa masuk ke P3K secepatnya,” pungkas Aan. *Kus